Memilih atau dipaksa Memilih

celakanya hanya dirimu yang aku banggakan
hanya dirimu yang aku andalkan
diantara perih aku selalu menantimu

Syair lagu yang di ciptakan Eros, group band Seilla On 7 yang sempat menjadi heboh di negara tetangga tersebut memberiku sedikit inspirasi dalam melihat dan membayangkan sesuatu. Kalau kita cermati memang syair tersebut terkesan sombong, sok banget dan menganggap obyek yang menjadi sasaran kritik adalah sesuatu yang tidak begitu penting keberadaanya.
Manusia jika dikaitkan dengan dua kata subyek dan obyek sepertinya tidak bisa dilepaskan. Manusia dihadapkan pada pilihan; apakah berperan sebagai subyek, atau hanya sekedar menjadi obyek atau mampu bersiasat tampil dengan dua wajah menjadi subyek sekaligus obyek. Dalam tata bahasa Indonesia peran obyek tidak dianggap begitu penting karena ketika kita membuat sebuah kalimat dan sudah meletakkan kata sebagai Subyek dan Predikat sudah dianggap memenuhi syarat sebagai kalimat.
Kaitannya dengan obyek yang kita bicarakan diatas adalah keberadaan kata itu yang sama posisinya, dianggap tidak begitu penting. Ironi memang, dalam tata bahasa saja kita sudah diajari diskriminasi. Kita diajari melihat sesuatu dengan tidak utuh. Sekarang sering kita saksikan munculnya berbagai persoalan yang menghimpit bangsa Indonesia dikarenakan pemahaman yang tidak utuh, penafsiran yang tidak lengkap dan informasi yang teramputasi.

Read more…

Sphere: Related Content

Cerita Lain tentang Investasi

kata-kata ini sebenarnya ingin aku ungkapkan sejak lama, disaat Istighosah rutin yang diadakan teman-teman Averroes Community. Kenapa tidak dikatakan, kenapa tidak disampaikan? Pertanyaan itu yang barangkali muncul ketika teman-teman tahu hal ini, atau barangkali tidak ada pertanyaan sama sekali.

Spektrum CahayaAntara penting dan tidak penting, antara patut dan tidak patut. Aku berfikirnya seperti itu. Sampai sama sekali belum terucap. Terbayang ketika melihat film-film Saur Sepuh dimana salah satu bintangnya adalah Jerangkong dengan senjata andalannya benda yang membentuk busur panah, ketika tali dari busur panah tersebut dipetik atau digesek akan mengeluarkan bunyi yang bisa memecahkan gendang telinga lawannya. Begitu juga yang terjadi di film Tutur Tinular dimana suara merdu Arya Dwipangga “Syair Berdarah” dan bunyi serulingnya sanggup mempedayai dan memusnahkan musuh-musuhnya.
Aku coba menghubungkan kekuatan bunyi yang ditimbulkan oleh benda atau yang dibaca seseorang. Menganut Hukum Kekekalan Energi (Hukum I Termodinamika) yang dipopulerkan oleh James Prescoot Joule yang berbunyi “Energi tidak dapat diciptakan dan juga tidak dapat dimusnahkan ” penjelasannya, jadi perubahan bentuk suatu energi dari bentuk yang satu kebentuk yang lain tidak merubah jumlah atau besar energi secara keseluruhan.
Yang terbanyang dalam pikiranku adalah bagaimana dengan bunyi-bunyian yang kita baca setiap Istighosah? Apakah mempunyai kekuatan energi, apakah energi dari bunyi yang ditimbulkan bisa kekal? Tentu kita bisa memikirkan, membayangkannya dan menemukan jawabannya dengan berpijak pada hukum penemuan Joule tadi.
Rutinitas (red, investasi) bunyi-bunyian yang kita baca tentu akan membentuk kerapatan gelombang suara (bunyi) yang teratur sedemikian rupa. Meskipun ini abstrak, sebagaimana terbatasnya mata kita mencerna cahaya satu lampu kamar kita. Mata kita hanya bisa menangkap cahaya putih . Tetapi sebenarnya spektrum cahaya yang ditimbulkan cahaya lampu tersebut bisa ratusan warna.

Read more…

Sphere: Related Content

the 3 AM

Tentunya tidak 100% hilang dari ingatan kita, apa yang terjadi di 3 dini hari…!!!
Gendang telinga pecah
Mata mengeluarkan tangisan darah
Kepoyo-poyo
Tentunya yang sedang senggama bisa mati seketika
 
Bayangkan……????
Read more…

Sphere: Related Content

Ayam dan Elang

elangSeseorang menemukan sebutir telur burung elang, dan kemudian ditetaskannya bersama-sama ayam piaraannya. Anak elang pun lahir dan kemudian bermain-main sampai dewasa dengan ayam. Suatu ketika di masa tuanya, sang elang melihat ke langit dan melihat burung yang terbang dengan gagahnya. Ia bertanya, “Siapa dia?”. “Itulah burung elang, raja segala burung,” jawab si ayam, “tempatnya di langit sana, sedangkan kita ayam hanya di sini, di bumi ini.” Maka sepanjang masa si elang hidup dan mati sebagai ayam. Begitulah ia memikirkan dirinya.

Sphere: Related Content

Cinta Unix

Buah CintaCinta anak cucu manusia itu unix, tidak hanya sebatas pacar atau kekasih. Tetapi di cinta sebagai teman, sahabat, atau saudara tidak akan menghilangkan makna cinta sesungguhnya. Pastinya sesuatu yang dirasa akibat treatment dari cinta tersebut jelas berbeda. Manis pahitnya ketika di cinta sebagai kekasih akan sangat berbeda ketika disandingkan dengan manis pahitnya di cinta sebagai teman.

Sewajarnya ketika kita mencinta dia sebagai teman minimal kita harus pengertian, mencinta dia sebagai sahabat setidaknya kita mampu berempati. Mencinta the other sebagai saudara kita seharusnya perlakukan dia sebagai teman dan sahabat. Tanpa itu sepertinya hampa (bullshit) ketika para pencari cinta kesana kemari ngomongin cinta.

Read more…

Sphere: Related Content

Sekilas Ilmu Hikmah

Sesungguhnya mereka-mereka yang memiliki hikmah yang utama adalah Rasulullah, Nabiyullah, Waliyullah, bukan karena mereka mengetahui yang ghaib, tetapi karena Allah telah memuliakan mereka dengan ilmu hikmah yang lebih. Allah menganugerahkan ilmu hikmah (kepahaman yang dalam tentang Al Qur’an dan As Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugerahi ilmu hikmah itu, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakal yang dapat mengambil pelajaran (al Qur’an).

Read more…

Sphere: Related Content

Buah Kesadaran, Belajar dari Anak Kerang

Anak KerangCerita seekor anak kerang di dasar laut yang mengadu dan mengeluh pada ibunya sebab sebutir pasir tajam memasuki tubuhnya yang merah dan lembek.”Anakku,” kata ibu sambil bercucuran air mata , ”Tuhan tidak memberikan pada kita, bangsa kerang, anggota tubuh seperti laiknya makhluk Tuhan yang lain, sehingga Ibu tak bias menolongmu”.”Si ibu terdiam, sejenak” Aku tahu bahwa itu sakit anakku, tetapi terimalah itu sebagai takdir. Kuatkan hatimu, besarkan hatimu. Fokuskan semangatmu melawan rasa ngilu dan nyeri yang menghimpit dan menguntit. Balutlah pasir itu dengan getah perutmu. Hanya itu yang bisa kau perbuat anakku, pesan ibunya dengan rasa iba yang mendalam.

Read more…

Sphere: Related Content

Anglo Saxon dan Novel Gadis Srigala

Anglo SaxonAnglo-Saxon adalah sebuah wilayah yang menarik. Nama Anglo-Saxon, sejak abad ke-8 lazim dipakai untuk menyebut penduduk Britania Raya, yakni bangsa Germania yang berasal dari suku-suku Anglia, Saks, dan Yut. Konon, pada tahun 400 M mereka menyeberang dari Jerman Timur dan Skandinavia Selatan untuk menaklukkan bangsa Kelt, lantas mendirikan 7 kerajaan kecil yang disebut Heptarchi. Mereka dinasranikan antara 596-655 M.

Sejarah Anglo-Saxon ini, oleh Theresa Tomlinson, diangkat menjadi latar cerita dalam novel Gadis Serigala, sebuah fiksi remaja tentang seorang gadis pemberani bernama Wulfrun. Wulfrun anak seorang penenun, Cwen. Mereka tinggal di wilayah kekuasaan Biara Whitby yang dikepalai oleh Suster Hild. Setiap hari, Wulfrun bertugas menggembalakan angsa-angsa mereka bersama sahabatnya, Cadmon, seorang penggembala sapi.  Cwen anak-beranak hidup sangat miskin. Saking miskinnya, dia terpaksa menjual putra sulungnya, Sebbi, sebagai budak. Pada masa tersebut, perbudakan masih menjadi sesuatu yang lazim terjadi. Barangkali akibat perang yang terus berlangsung antara daerah-daerah yang saling berseteru. Rakyat di sana terbagi menjadi dua: kaum bebas dan kaum tak bebas.

Read more…

Sphere: Related Content